Meet The Archives

21 01 2008

“Experience is the best teacher” alias pengalaman adalah guru yang paling baik. Pepatah ini memang benar-benar berlaku bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah (PSP Sejarah) FKIP Unlam, angkatan 2004 khususnya, saat berkunjung ke kantor arsip daerah di Banjarbaru.

Hari Jumat, tepatnya tanggal 17 Januari 2008, mahasiswa PSP Sejarah bersama para pendekar Sejarah, yaitu Pak EWA sebagai kakak I, Pak Porda sebagai kakak II, dan Pak Bambang sebagai kakak IV (Pak Anis, kakak III, tidak hadir) melakukan kunjungan informal ke kantor arsip daerah Banjarbaru. Ini merupakan kunjungan pertama bagi penulis dan teman-teman yang lain ke kantor arsip tersebut. Yang unik adalah kami sudah mengambil mata kuliah Kearsipan dan Permuseuman serta sebagai orang yang berkecimpung di dunia kesejarahan (meskipun tidak riil sejarah murni) baru pertama kali ini berkunjung ke kantor arsip di daerahnya. Ironis memang…. Namun, tak mengapa, karena dari kunjungan inilah, memberikan inspirasi bagi kami, mahasiswa PSP Sejarah, khususnya angkatan 2004, untuk lebih memperhatikan pentingnya makna dari kunjungan ini. Terutama bagi kelanjutan masa depan skripsi yang tengah kami garap, yang memerlukan sumber primer dari kantor arsip tersebut.

Saat pertama tiba di kantor arsip daerah Banjarbar keadaan kantor masih sangat lengang karena para pegawai kantor sedang melaksanakan senam pagi di lapangan Murjani, yang berada di seberang kantor arsip daerah tersebut. Sehingga penulis dan teman-teman memanfaatkan waktu dengan berfoto bersama. Tidak berapa lama setelah para pendekar Sejarah tiba di lokasi kunjungan, dan para pegawai kantor arsip tiba di kantornya, kami pun dipersilakan masuk dan diterima dengan baik oleh mereka, meskipun kunjungan ini sifatnya mendadak, tetapi acara dapat berjalan dengan lancar.

Baca entri selengkapnya »





Kisah Sang Calon Guru

23 11 2007

 

        Setelah melalui bulan penuh perjuangan, bulan Ramadhan, tidak akan lama lagi genderang perjuangan melawan “senjata ampuh” dari pendekar (dosen) kampus segera ditabuh. “Senjata ampuh” yang dimaksud adalah UTS alias Ujian Tengah Semester, atau dalam bahasa populernya, Middle Test (Mid-test).

            Penulis tidak akan berbicara sebatas pada persoalan mid-test, tetapi juga final test, yang menurut kalender akademik Unlam 2007-2008 akan diadakan tanggal 2-12 Januari 2008. Di sinilah hidup matinya mahasiswa akan dipertaruhkan. Semua motto pembangkit semangat pun dikoar-koarkan, dari yang berbahasa Inggris, bahasa Indonesia sampai yang berbahasa Banua, Banjarese. Don’t give up! We can make it, We will the champion (hehe). Kemudian, Aku bisa! Maju terus! Dan Haram Manyarah Waja sampai Kaputing, dan lain-lain lah, pokoknya yang memacu semangat juang para mahasiswa. Tidak ketinggalan pula, metode keberhasilan ala Machiavelli alias asas menghalalkan segala cara sering digunakan untuk mendukung suksesnya ujian.
Adapun asas-asas tersebut antara lain sebagai berikut :
1.Malam sebelumnya, sengaja membuat catatan atau “krepean” di kertas,
2.Sengaja datang pagi-pagi buta untuk mencari posisi duduk yang strategis (biasanya di belakang) untuk mendapatkan keleluasaan dalam menjalankan aksinya,
3.Segera menyalurkan bakat “membatiknya” di dinding atau meja kelas, tempat ujian akan diadakan,
4.Meletakkan buku/fotokopi/catatan materi kuliah tidak jauh dari jangkauan mata apalagi tangan si pelaku,
5.Nyontek jawaban teman yang posisinya berdekatan dengan si pelaku.
Sungguh kreativitas yang sangat tinggi! Baca entri selengkapnya »





INDUSTRIALISASI ABAD KE-19

20 11 2007

oleh Tri Prasetia

Menjelang tahun 1900, pada saat Indonsia di bawah Kolonial, terutama Jawa, telah membangun banyak sektor manufaktur modern yang sangat besar yang mengolah komoditi-komoditi primer, baik tanaman pertanian (terutama gula) maupun bahan-bahan mentah (terutama minyak), yang berhubungan dengan industri mesin dan logam besar, ditambah oleh kebutuhan umum da sedikit jenis barang konsumen dan bahan bangunan. Dalam kenyataannya, Jawa dominan di Asia Tenggara. Di seluruh Asia, padanannya adalah industri pembuatan serat di Benggala (Kalkuta), pabrik tekstil Osaka Spinning Mill (1882) dan pada 1890-an industri tekstil kapas mulai menjadi sektor terkemuka di Jepang. Meskipun demikian, menjelang awal 1880-an, mekanisasi industri gula di Jawa hampir lengkap. Pada akhir 1900, Surabaya (dan bukan Batavia) memiliki peringkat yang setara dengan Kalkuta, Bombay, dan Osaka di antara pusat-pusat industri terkemuka di Asia.

Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.