Setelah melalui bulan penuh perjuangan, bulan Ramadhan, tidak akan lama lagi genderang perjuangan melawan “senjata ampuh” dari pendekar (dosen) kampus segera ditabuh. “Senjata ampuh” yang dimaksud adalah UTS alias Ujian Tengah Semester, atau dalam bahasa populernya, Middle Test (Mid-test).
Penulis tidak akan berbicara sebatas pada persoalan mid-test, tetapi juga final test, yang menurut kalender akademik Unlam 2007-2008 akan diadakan tanggal 2-12 Januari 2008. Di sinilah hidup matinya mahasiswa akan dipertaruhkan. Semua motto pembangkit semangat pun dikoar-koarkan, dari yang berbahasa Inggris, bahasa Indonesia sampai yang berbahasa Banua, Banjarese. Don’t give up! We can make it, We will the champion (hehe). Kemudian, Aku bisa! Maju terus! Dan Haram Manyarah Waja sampai Kaputing, dan lain-lain lah, pokoknya yang memacu semangat juang para mahasiswa. Tidak ketinggalan pula, metode keberhasilan ala Machiavelli alias asas menghalalkan segala cara sering digunakan untuk mendukung suksesnya ujian.
Adapun asas-asas tersebut antara lain sebagai berikut :
1.Malam sebelumnya, sengaja membuat catatan atau “krepean” di kertas,
2.Sengaja datang pagi-pagi buta untuk mencari posisi duduk yang strategis (biasanya di belakang) untuk mendapatkan keleluasaan dalam menjalankan aksinya,
3.Segera menyalurkan bakat “membatiknya” di dinding atau meja kelas, tempat ujian akan diadakan,
4.Meletakkan buku/fotokopi/catatan materi kuliah tidak jauh dari jangkauan mata apalagi tangan si pelaku,
5.Nyontek jawaban teman yang posisinya berdekatan dengan si pelaku.
Sungguh kreativitas yang sangat tinggi!
Penulis jadi teringat pada kejadian awal tahun 2007, saat berada di semester 5. Studi kasusnya di sebuah ruangan di fakultas yang mempersiapkan para calon pendidik. Ketika itu diadakan final mata kuliah kependidikan. Deg-degan iya, penasaran sudah pasti. Untungnya penulis sudah siap lahir batin. Namun, lain perkataan dengan yang dialami oleh teman-teman yang lain. Suasana kelas menjadi gaduh. Apa yang sebenarnya terjadi? Kertas “krepean” yang dibuat setengah mati dan hasil kerajinan “membatik” mereka akhirnya divonis “kadaluwarsa” oleh takdir. Seorang teman berujar: “Paisnya basi!” kontan penulis tertawa.
Fenomena di atas hanya merupakan contoh kecil dari praktik kecurangan yang terus dibudayakan. Bagaimana dengan moral manusia-manusia di kelas, program studi, fakultas, universitas yang lain? Terutama fakultas atau universitas yang mencetak calon guru? Akan dajarkan apa nanti anak didik? Kecurangan? Ketidakjujuran? Tidak menghargai kemampuan kerja otak yang diberikan oleh Tuhan? Jadi, jika nantinya si calon guru ini mengajar, jangan disalahkan kalau ada murid-muridnya yang melakukan kecurangan yang sama seperti yang ia lakukan di masa lalu. Wong gurunya saja otaknya “rusak”.
Pernah penulis berdiskusi alot dengan beberapa teman. Ternyata ada di antara teman penulis yang terpaksa masuk ke fakultas yang mencetak calon pendidik ini karena “kecelakaan”. Kecelakaan? Maksudnya salah pilih fakultas karena tidak tahu singkatan dari FKIP alias mereka tidak tahu bahwa pada akhirnya akan menjadi guru. Apa ini tidak celaka namanya? Saking kesalnya penulis berujar: “Berhenti saja kuliah! Habis perkara.”
Ingatlah wahai teman-teman mahasiswa, khususnya calon guru, di mana pun kalian berada. Generasi Indonesia di masa datang wajib memiliki moral yang benar, mandiri, dan dinamis. Pondasi awal harus dibangun secara kuat dengan segala perhitungan yang mantap agar nantinya bangunan yang bernama Indonesia menjadi semakin baik dan tidak akan mudah runtuh oleh kemajuan zaman.
Komentar Terakhir